Rabu, 06 Juni 2012

Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA)



2.1       Kerangka Teori
2.1.1    Pengertian Bank
Bank berasal dari kata Italia banco yang artinya bangku. Bangku inilah yang dipergunakan oleh banker untuk melayani kegiatan operasionalnya kepada para nasabah. Istilah bangku secara resmi dan popular menjadi bank.
Bank termasuk perusahaan industri jasa karena produknya hanya memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat. Agar pengertian bank menjadi jelas, penulis mengutip beberapa definisi atau rumusan yang dikemukakan para penulis sebagai berikut:
1.      Undang- undang Republik Indonesia No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang telah diubah dengan Undang-undang No 10 Tahun 1998:
·         Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
·         Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
·         Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

·         Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Sementara Pierson (2007) memberikan definisi “Bank is a company which accept credit, but didn’t give credit” (Bank adalah usaha yang menerima kredit, tetapi tidak memberikan kredit). Teori Pierson ini menyatakan bahwa bank dalam opersionalnya hanya bersifat pasif saja, yaitu hanya menerima titipan uang saja.
Menurut Verryn Stuart (2007) Bank adalah badan usaha yang wujudnya memuaskan keperluan orang lain, dengan memberikan kredit berupa uang yang diterimanya dari orang lain, sekalipun dengan jalan mengeluarkan uang baru kertas atau logam.
Menurut B.N Ajuha (2007) Bank menyalurkan modal dari mereka yang tidak dapat menggunakan secara menguntungkan kepada mereka yang dapat membuatnya lebih produktif untuk keuntungan masyarkat. Bank juga berarti saluran untuk menginvestasikan tabungan secara aman dan dengan tingkat suku bunga yang menarik.
Menurut H. Malayu S. P. Hasibuan (2007) Bank adalah lembaga keuangan berarti bank adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk asset keuangan serta bermotifkan profit dan juga social, jadi bukan hanya mencari keuntungan saja.
2.1.2    Pentingnya Bank
Bank sangat penting dan berperan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian suatu bangsa karena bank adalah:

1.      Pengumpul dana dari SSU dan penyalur kredit kepada SSU
2.      Tempat menabung yang efektif dan produktif bagi masyarakat
3.      Pelaksana dan memperlancar lalu lintas pembayaran dengan aman, praktis dan ekonomis.
4.      Penjamin penyelesaian perdagangan dengan menerbitkan L/C
5.      Penjamin penyelesaian proyek dengan menerbitkan bank garansi
2.1.3    Asas, Fungsi, dan tujuan Perbankan Indonesia
Dalam pasal 2, 3, dan 4 UU No. 7 Tahun 1992 sebagimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, dinyatakan asa, fungsi, dan tujuan sebagai berikut:
a.       Asas
Perbankan Indonesia dalam melaksanakan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian.
b.      Fungsi
Fungsi utama perbankan adalah sebagai penghimpun dana dan penyalur dana masyarakat.
c.       Tujuan
Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatanb rakyat banyak.

      Dalam melaksanakan asas demokrasi ekonomi, industri perbankan Indonesia harus menghindarkan diri dari cirri-ciri negatif yang dinyatakan dalam GBHN yaitu:
1.      Sistem free fight liberalism yang menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain.
2.      Sistem etatisme dimana negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi swasta.
3.      Pemusatan kekuatan industri perbankan pada satu kelompok yang merugikan masyarakat.
2.1.4    Usaha Pokok Bank
Bank adalah badan usaha di bidang keuangan yang menarik uang dari masyarakat dan menyalurkannya kembali ke masyarakat, terutama dengan cara memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran, dan peredaran uang (Lembaga Perkembangan Perbankan Indonesia-LPPI).
Bank pada dasarnya merupakan perantara SSU dengan DSU, usaha pokok bank didasarkan atas empat hal pokok, yaitu:
            2.1.4.1 Denomination Divisibility
Artinya bank menghimpun dana dari SSU yang masing-masing nilainya relatif kecil, tetapi secara keseluruhan jumlahnya akan sangat besar. Dengan demikian, bank dapat memenuhi permintaan DSU yang membutuhkan dana tersebut dalam bentuk kredit.
            2.1.4.2 Maturity Flexibility
        Artinya bank dalam menghimpun menyelenggarakan bentuk-bentuk simpanan yang bervariasi jangka waktu dan penarikannya, seperti rekening giro, rekening koran, deposito berjangka, sertifikat deposito, buku tabungan dan sebagainya.
            2.1.4.3 Liquidity Transformation
        Artinya dana yang disimpan oleh penabung (SSU) kepada bank umumnya bersifat likuid. Karena itu, SSU dapat dengan mudah mencairkannya sesuai dengan bentuk tabungannya.
2.1.4.4 Risk Difersification
        Artinya bank dalam menyalurkannya kredit kepada banyak pihak atau debitur dan sector-sektor ekonomi yang beraneka macam, sehingga resiko yang dihadapi bank dengan cara menyebarkan kredit semakin kecil.
2.2       Laporan Keuangan
2.2.1    Pengertian Laporan Keuangan
            Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan (Zaki Baridwan, 2004:17).
            Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu (Harahap, 2004:105). Laporan keuangan dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil usaha perusahaan dalam suatu periode dan arus dana (kas) perusahaan dalam periode tertentu.
            PSAK No. 1 (Revisi 1998) tentang penyajian laporan keuangan menyatakan bahwa laporan keuangan lengkap terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut:
1.      Neraca, yaitu laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu.
2.      Laporan laba rugi, yaitu laporan yang menunjukkan hasil usaha dan biaya-biaya selama suatu periode akuntansi.
3.      Laporan perubahan ekuitas, yaitu laporan yang menunjukkan sebab-sebab perubahan ekuitas dari jumlah awal periode menjadi jumlah ekuitas pada akhir periode.
4.      Laporan arus kas (cashflow statement), menunjukkan arus kas masuk dan keluar yang dibedakan menjadi arus kas operasi, arus kas investasi dan arus kas pendanaan.
5.      Catatan atas laporan keuangan.
2.2.2    Tujuan Laporan Keuangan
            Di dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No. 1 dinyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyajikan informasi yang:
a.       Berguna bagi investor dan kreditur yang ada dan yang potensial dan pemakai lainnya dalam membuat keputusan untuk investasi, pemberian kredit dan keputusan lainnya.
b.      Dapat membantu investor dan kreditur yang ada dan yang potensial dan pemakai lainnya untuk menaksir jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari penerimaan uang di masa yang akan datang yang berasal dari dividen atau bunga dan dari penerimaan uang yang berasal dari penjualan, pelunasan, atau jatuh temponya surat-surat berharga atau pinjaman-pinjaman.
c.       Menunjukkan sumber-sumber ekonomi dari suatu perusahaan, klaim atas sumber-sumber tersebut, dan pengaruh dari transaksi-transaksi kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan yang mempengaruhi sumber-sumber dan klaim atas sumber-sumber tersebut.
      Berikut ini, beberapa tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan, Kasmir (2010:87), yaitu:
1.      Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
2.      Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
3.      Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.
4.      Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan pada suatu periode tertentu.
5.      Memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva dan modal perusahaan.
6.      Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.
7.      Memberikan informasi tentang catatan atas laporan keuangan
8.      Informasi keuangan lainnya.
2.2.3    Pemakai Laporan Keuangan
            Menurut Harahap (2004:120) para pemakai laporan keuangan beserta kegunaannya dapat dilihat dari penjelasan berikut:
1.      Pemegang saham
Mengetahui kondisi keuangan perusahaan, asset, hutang, modal, hasil, biaya, dan laba. Juga ingin melihat prestasi perusahaan dalam pengelolaan manajemen yang diberikan amanah. Mengetahui jumlah deviden yang akan diterima, jumlah pendapatan per saham, jumlah laba yang ditahan, perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu, dan perbandingan antara
usaha sejenis dan perusahaan lainnya. Dari informasi ini pemegang saham
dapat mengambil keputusan apakah akan mempertahankan sahamnya, menjual, atau menambahnya. Semua tergantung pada kesimpulan yang diambil dari informasi yang terdapat dalam laporan keuangan atau informasi tambahan lainnya.
2.      Investor
Penanam modal berisiko dan penasihat mereka berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar deviden.
3.      Karyawan
Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
4.      Pemberi pinjaman
Tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
5.      Pemasok dan Kreditur usaha lainnya.
Dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek dari pada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
6.      Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan
hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka
panjang, atau tergantung pada perusahaan.
7.      Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
8.      Masyarakat
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.
2.2.4    Bentuk-bentuk Laporan Keuangan
Isi dan susunan masing-masing laporan keuangan yang dihasilkan setiap periode adalah:
1.      Neraca
Neraca atau laporan posisi laporan keuangan (balance sheet or Statement of Financial Position) adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada tanggal tertentu. Keadaan ini ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut aktiva dan jumlah kewajiban perusahaan yang disebut pasiva atau dengan kata lain, aktiva adalah investasi di dalam perusahaan dan pasiva merupakan sumber-sumber yang digunakan untuk investasi tersebut.
                 
2.      Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu. Laporan laba rugi merupakan sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode.
3.      Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan yang digunakan untuk mengetahui perbandingan antara model awal saat perusahaan didirikan dengan modal akhir suatu perusahaan, dengan cara menghitung atau menambahkan modal awal dengan laba (jika perusahaan mendapatkan laba) yang didapat yang telah dikurangi “prive” (pengambilan uang kepentingan pribadi, jika ada) yang hasilnya akan menambah modal awal, atau bisa juga dengan mengurangi modal awal dengan rugi (jika perusahaan mengalami kerugian) yang ditambah dengan “prive” yang hasilnya akan mengurangi modal awal.
4.      Laporan Arus Kas
Laporan arus kas adalah laporan yang menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas dalam aktivitas perusahaan selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
2.2.5    Keterbatasan Laporan Keuangan
            Laporan keuangan yang dihasilkan mempunyai beberapa keterbatasan antara lain:
1.      Cukup Berarti (Materilality)
Pada dasarnya akuntansi itu disusun diatas landasan dasar teori yang akan diharapkan untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi dalam suatu cara tertentu. Transaksi yang jumlahnya cukup besar diperlakukan sesuai dengan teori, tetapi untuk transaksi yang jumlahnya kecil dan tidak akan mempengaruhi pos-pos lain bias diperlakukan menyimpang. Suatu laporan, fakta atau elemen dianggap cukup berarti jika karena adanya dan sifatnya akan mempengaruhi atau menyebabka timbulnya perbedaan dalam pengambilan keputusan, dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan lain yang ada.
2.      Konservatif
Merupakan sikap yang diambil oleh akuntan dalam menghadapi dua atau lebih alternatif dalam penyusunan laporan keuangan. Apabila lebih dari satu alternatif tersedia maka sikap konservatif ini cenderung memilih alternatif yang tidak akan membuat aktiva dan pendapatan terlalu besar.
3.      Sifat Khusus Suatu Industri
Industri-industri yang mempunyai sifat-sifat khusus seperti bank, asuransi dan lain-lain sering kali memerlukan prinsip akuntansi yang berbeda dengan industry lainnya.
Menurut PAI sifat dan keterbatasan laporan keuangan adalah:
1.      Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat. Karenanya laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.
2.      Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.
3.      Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
4.      Akuntansi hanya melaporkan informasi yang materiil. Demikian pula penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh yang materiil terhadap kelayakan laporan keuangan.
5.      Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
6.      Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomi suatu peristiwa/transaksi dari pada bentuk hukumnya.
7.      Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
8.      Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomi dan tingkat kesuksesan antar perusahaan.
9.      Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikauntifikasikan umumnya diabaikan.
2.3       Pengertian Economic Value Added (EVA)
            Economic Value Added (EVA) didefinisikan secara umum sebagai laba yang tertinggal setelah dikurangi biaya modalnya (cost of capital). Stewart (Utomo, 1999:36) menyatakan:”Economic Value Added (EVA) is a residual income measure that substract the cost of capital from the operating profits generated in the business”. EVA adalah nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatan atau strateginya pada periode tertentu.
            Pengertian EVA menurut S.David Young & Stephen F. O’Byrne adalah tolok ukur kinerja keuangan dengan mengukur perbedaan antara pengembalian atas modal perusahaan dengan biaya modal (S.David Young & Stephen F. O’Byrne, 2001:831).
            Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa Economic Value Added (EVA) merupakan jumlah uang yang diciptakan oleh perusahaan dengan mengurangkan beban modal dari Net Operating After Tax (NOPAT) yang menggambarkan pengembalian atas modal yang dikeluarkan untuk investasi oleh perusahaan.
            Konsep EVA/Nilai Tambah Ekonomis merupakan pendekatan baru dalam menilai kinerja perusahaan dengan memperhatikan secara adil ekspektasi para penyandang dana. Tidak seperti ukuran kinerja konvensional, konsep EVA dapat berdiri sendiri tanpa perlu dianalisa perbandingan dengan perusahaan sejenis ataupun membuat analisa kecenderungan/trend. Nilai Tambah Ekonomis positif jika pengembalian yang dihasilkan lebih tinggi daripada tingkat pengembalian yang diinginkan investor. Sedangkan Nilai Tambah Ekonomis negatif menandakan bahwa nilai perusahaan berkurang sehingga tingkat pengembalian yang dihasilkan lebih rendah daripada tingkat pengembalian yang dituntut oleh investor, yang berarti perusahaan tidak berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal.
2.3.1    Kelebihan dan Kekurangan Economic Value Added (EVA)
            Kelebihan Economic Value Added (EVA), antara lain:
1.      Bermanfaat sebagai penilai kinerja yang berfokus pada penciptaan nilai (value creation) membuat perusahaan lebih memperhatikan struktur modal, dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kegiatan atau proyek yang memberikan pengembalian dari pada biaya modal.
2.      Manajemen dipaksa untuk mengetahui berapa the true cost of capital dari bisnisnya sehingga tingkat pengembalian bersih dari modal yang merupakan hal sesungguhnya menjadi perhatian para investor dapat diperlihatkan secara jelas.
3.      Nilai Tambah Ekonomis fokus penilaian kerja perusahaan pada penciptaan nilai yaitu memaksimalkan nilai perusahaan dan meningkatkan nilai pemegang saham. Sehingga para manajer akan berfikir dan bertindak seperti halnya pemegang saham. Manajer memilih investasi yang memaksimalkan tingkat pengembalian dan meminimkan tingkat biaya modal sehingga nilai perusahaan dapat diminimumkan.
4.      Nilai Tambah Ekonomis dapat digunakan untuk mengidentifikasi proyek yang memberikan pengembalan yang lebih tinggi daripada biaya modalnya. Proyek yang memberikan nilai sekarang dari total Nilai Tambah Ekonomis yang positif menunjukkan bahwa proyek tersebut menciptakan nilai perusahaan.
Selain kelebihan yang dimiliki Nilai Tambah Ekonomis, Nilai Tambah Ekonomis juga mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya sebagai berikut:
1.      Nilai Tambah Ekonomis hanya menggambarkan penciptaan nilai pada suatu tahun tertentu. Seperti diketahui nilai suatu perusahaan adalah merupakan akumulasi Nilai Tambah Ekonomis selama umur perusahaan. Dengan demikian, bisa saja suatu perusahaan memiliki Nilai Tambah Ekonomis positif pada tahun yang berlaku, tetapi nilai perusahaan tersebut rendah karena Nilai Tambah Ekonomis dimasa mendatang negative.
2.      Proses perhitungan Nilai Tambah Ekonomis memerlukan estimasi atas biaya modal dan estimasi ini terutama untuk perusahaan-perusahaan yang belum go public sulit dilakukan dengan tepat.
3.   Dalam perhitungan Nilai Tambah Ekonomis masih disasarkan pada laporan keuangan yang memungkinkan dapat direkayasa pembukuannya untuk mendapatkan Nilai Tambah Ekonomis yang positif.
2.3.2    Tahapan Nilai Tambah Ekonomis
            Langkah-langkah dalam menghitung Nilai Tambah Ekonomis adalah:
·         Menghitung Net Operating Profit After Tax (NOPAT)
Net Operating Profit After Tax (NOPAT) jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah keuntungan bersih operasi setelah pajak. Namun pengertian NOPAT yang lebih tepat adalah laba bersih yang telah disesuaikan sehingga laba tersebut tidak memperhitungkan biaya bunga lagi.
NOPAT : Laba bersih setelah pajak + biaya bunga .......................... (1)


·         Menghitung Invested Capital (IC)
Invested Capital adalah jumlah investasi dalam bentuk asset yang berhubungan dengan kegiatan atau aktivitas operasional perusahaan. Modal yang diinvestasikan sama dengan jumlah modal ekuitas pemegang saham, seluruh utang jangka pendek dan jangka panjang yang menanggung bunga utang dan kewajiban jangka panjang lainnya.
IC : Kas + Modal Kerja + Aktiva Tetap   ......................................... (2)
·         Menghitung Weight Average Cost of Capital (WACC)
WACC sama dengan jumlah biaya dari setiap komponen modal utang jangka pendek, utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham ditimbang berdasarkan proporsi relatifnya dalam struktur modal perusahaan pada nilai pasar.
WACC : {D  rd (1-Tax)} + (E  re) .............................................. (3)
a.       Identifikasi Tingkat Modal Dari Hutang (D)
D : .............. (3.1)
b.      Identifikasi biaya hutang ()
 :  ..................................................................... (3.2)
c.       Menentukan Persentase Pajak Pengahasilan (t)
T : ............................................................... (3.3)
d.      Menentukan tingkat Modal Dari Ekuitas (E)
E : .......................................................... (3.4)
e.       Menghitung Cost of Equity ()
re : ................................................................................... (3.5)
·         Menghitung Capital Charge (CC)
CC : WACC                                                          (4)
·         Menghitung Nilai Tambah Ekonomis
EVA : NOPAT-Capital Charge .................................................. (5)
2.4       Pengertian Market Value Added (MVA)
Young & O’Byrne (2001:26) menyatakan bahwa Market Value Added (MVA) adalah perbedaan antara nilai pasar perusahaan (termasuk ekuitas dan utang) dan modal keseluruhan yang diinvestasikan dalam perusahaan. MVA secara teknis diperoleh dengan cara mengalikan selisih antara harga pasar per lembar saham (stock price per share) dan nilai buku per lembar saham (book value per share). Nilai pasar adalah nilai perusahaan. Yakni jumlah nilai pasar dari semua tuntutan modal terhadap perusahaan oleh pasar modal pada tanggal tertentu. MVA meningkat hanya jika modal yang diinvestasikan mendapatkan angka pengembalian lebih besar dari pada biaya modal. Semakin besar MVA, semakin baik. MVA yang negatif berarti nilai dari investasi yang dijalankan manajemen kurang dari modal yang diserahkan kepada perusahaan oleh pasar modal, yang berarti bahwa kekayaan telah dimusnahkan (Young, 2001:27).
MVA merupakan suatu ukuran yang digunakan untuk mengukur keberhasilan dalam memaksimalkan kekayaan pemegang saham dengan mengalokasikan sumber-sumber yang sesuai.MVA juga merupakan indikator yang dapat mengukur seberapa besar kekayaan perusahaan yang telah diciptakan untuk investornya atau MVA menyatakan seberapa besar kemakmuran yang telah dicapai.
2.4.1    Kelebihan dan Kekurangan Market Value Added (MVA)
Kelebihan Market Value Added (MVA) menurut Zaky dan Ary (2002:139), MVA merupakan ukuran tunggal dan dapat berdiri sendiri yang tidak membutuhkan analisis trend maupun norma industry sehingga bagi pihak manajemen dan penyedia dana akan lebih mudah dalam menilai kinerja perusahaan. Sedangakan kelemahan MVA adalah, MVA hanya dapat diaplikasikan pada perusahaan yang sudah go public saja.

2.4.2    Tahapan Nilai Tambah Pasar
            Rumus untuk mencari Nilai MVA adalah :
            MVA = nilai pasar – modal yang diinvestasikan
MVA = (nilai pasar dari ekuitas+nilai pasar dari utang+bunga minoritas)-(modal yang diinvestasikan).
·         Menghitung nilai pasar dari ekuitas (MV of Equity)
MV of Equity = (harga saham akhir tahun buku perusahaan) X (jumlah saham yang beredar pada periode tersebut).
·         Menghitung nilai pasar dari utang
Nilai pasar dari utang dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan oleh perusahaan namun jika tidak tersedia kita dapat menggunkan nilai buku dengan asumsi bahwa analisis diluar perusahaan akan lebih mengandalkan nilai buku dari hutang.
·         Menghitung bunga minoritas
Nilai bunga minoritas dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan.
·         Menghitung modal yang diinvestasikan
Modal yang diinvestasikan dapat dihitung dengan menjumlahkan jumlah hutang jangka pendek, pinjaman bank/sewa guna usaha/obligasi jangka panjang, kewajiban pajak tangguhan, kewajiban jangka panjang lainnya, hak minoritas atas aktiva bersih anak perusahaan serta ekuitas.
2.5       Hubungan EVA dan MVA
EVA dan MVA memiliki hubungan tetapi hubungan antara EVA dan MVA merupakan hubungan yang tidak langsung. Jika pada perusahaan memiliki sejarah EVA yang bagus maka secara tidak langsung juga memiliki MVA yang bagus juga. Harga saham yang merupakan unsur utama MVA, lebih tergantung pada ekspektasi kinerja di masa mendatang dari pada suatu kinerja historis oleh sebab itu, sebuah perusahaan dengan sejarah nilai EVA negatif dapat saja memiliki MVA yang positif, asalkan para investornya mengharapkan terjadinya suatu perubahan arah di masa mendatang.
Ketika EVA atau MVA digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial sebagai bagian dari program kompensasi intensif, EVA adalah ukuran yang umum digunakan. Alasan pertama, EVA menunjukkan nilai tambah yang terjadi selama suatu tahun tertentu, sedangkan MVA mencerminkan kinerja perusahaan sepanjang hidupnya, bahkan mungkin termasuk masa-masa sebelum manajer yang ada sekarang dilahirkan. Kedua, EVA dapat diterapkan pada masing-masing divisi atau unit-unit yang lain dari sebuah perusahaan besar, sedangkan MVA harus diterapkan untuk perusahaan secara keseluruhan (Brigham&Weston, 2006:70).
Menurut Warsono (2003:49), MVA perusahaan selama periode tertentu, secara teoritis dapat didefinisikan sebagai nilai sekarang dari seluruh EVA dimasa mendatang yang diharapkan (expected fulure EVA). Ini berarti MVA merupakan jumlah nilai sekarang dari keseluruhan EVA dimasa yang akan datang yang diharapkan. Berdasarkan definisi ini, jika investor mengharapkan EVA nol pada satu tahun yang akan datang, maka mereka mengharapkan tidak ada nilai yang diciptakan, sehingga saham akan dijual pada nilai bukunya. Saham akan dijual di atas nilai bukunya. Jika investor mengharapkan EVA positif dan sebaliknya saham akan dijual di bawah nilai bukunya jika EVA yang diharapkan negatif.
2.6       Penelitian Terdahulu
1. Sahala Ian Patra Napitupulu (2007) meneliti tentang “Analisis Kinerja Keuangan dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) pada tiga Tiga Emiten Terbaik 2006”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tiga emiten terbaik 2006 telah memperhatikan sepenuhnya kepentingan para shareholder yang tercermin dari nilai EVA dan MVA yang sellau bernilai positif.
2. Muhammad Fajar Wahyudi (2009) meneliti tentang “ Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Menggunakan Pendekatan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) Periode Tahun 2005-2007 Studi Pada PT. Telekomunikasi Inonesia Tbk. Hasil dari penelitian ini didapat EVA dan MVA PT. Telkom bernilai positif. EVA yang positif menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan kinerja keuangan yang efektif dan efisien. MVA yang positif menunjukkan bahwa manajemen perusahaan mampu menghasilkan kekayaan bagi investor dan perusahaan. Dalam mewujudkan tujuan perusahaan yaitu menjadi penyedia jasa infokom terkemuka dikawasan regional dan untuk mewujudkan Telkom Goal 3010 yaitu membukukan kapitalisasi pasar sebesar US$ 30 di tahun 2010 maka pendekatan ini biasa dijadikan salah satu pedoman dalam mewujudkan tujuan tersebut.
3. Elly Lestari (2008) meneliti tentang “Analisis Pengaruh Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) Terhadap Return Saham”. Hasil penelitian ini menunjukkan metode penilaian kinerja EVA dan MVA tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh belum umumnya penggunaan metode EVA dan MVA bila dibandingkan dengan metode berbasis laporan akuntansi seperti ROA (Return On Asset) dan ROE (Return On Equity).
4. A. Sakir (2009) meneliti tentang “Pengaruh Economic Value Added (EVA) Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Terdaftarr di Jakarta Islamic Index Bursa Efek Jakarta”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa EVA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai saham di Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indondesia (BEI). Hal ini didukung oleh t-statistik > t-tabel koefisien korelasi 0,649 dan koefisien determinasi sekitar 0,421.
2.7       Kerangka Konseptual
            1. Economic Value Added (EVA)
        S.David Young dan Stephen F. O’Byrne (2001:17) mendefinisikan EVA sebagai berikut: “EVA didasarkan pada gagasan keuntungan ekonomis (residual income) yang menyatakan bahwa kekayaan hanya diciptakan ketika sebuah perusahaan meliputi biaya operasi dan biaya modal”. EVA dapat dinyatakan sebagai perhitungan profitabilitas suatu operasi perusahaan yang tidak hanya mengurangkan biaya operasi dari pendapatan yang ada namun juga mengurangkan biaya modal yang terkait dengan operasi tersebut terhadap total pendapatan.
        Young O’Byrne (2001:17) berpendapat bahwa EVA merupakan selisih antara NOPAT dengan biaya modal atau EVA merupakan selisih antara pengembalian aktiva bersih dengan biaya modal yang dikalikan dengan modal yang diinvestasikan, sehingga dapat dirumuskan bahwa EVA adalah:




Rounded Rectangle: EVA = NOPAT- Biaya Modal


Rounded Rectangle: EVA = (RONA – WACC) X Modal yang diinvestasikan
 





Berdasarkan rumus yang telah dikemukakan sebelumnya kita dapat melihat bahwa EVA akan dapat meningkat, dan nilai dapat tercipta ketika sebuah perusahaan dapat mencapai hal berikut ini:
a.       Peningkatan pengembalian atas modal yang ada jika RONA meningkat sedangkan WACC dan modal yang diinvestasikan tetap.
b.      Peningkatan RONA lebih besar dari pada WACC (RONA>WACC)
c.       Pengurangan biaya modal.
            2. Market Value Added (MVA)
        Young O’Byrne (2001:26) menyatakan bahwa Market Value Added (MVA) adalah perbedaan antara nilai pasar perusahaan (termasuk ekuitas dan utang ) dan modal keseluruhan yang diinvestasikan dalam perusahaan.
        Market Value Added = nilai pasar-modal yang diinvestasikan
MVA = (nilai pasar dari ekuitas + nilai pasar dari utang + bunga minoritas – (modal yang diinvestasikan).
        Rumus yang telah dikemukakan sebelumnya dapat memperlihatkan bahwa nilai MVA akan bernilai positif jika nilai pasar kebih besar dari pada modal yang diinvestasikan. MVA dengan kata lain akan bernilai positif jika kapitalisasi pasar lebih besar dibandingkan modal yang diinvestasikan.
       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Poskan Komentar